Welcome 2019

New Year…New Resolution…New Target…New Motivation…New Challenge…New Chance…New Change…and New Me 🙂

Iklan

Think About Our Self

Yup…
Ngga usah peduli dengan apa yang ada di pikiran orang tentang kita…
Pedulilah dengan apa yang kita pikirkan ttg diri kita sendiri… Just believe in your self 😍

Keistimewaan Kehidupan Orang2 Syahid

Orang-orang yang syahid itu memang istimewa, sehingga kita akan memaparkan di bawah ini keistimewaan2nya.

QS Ali Imran 169-172: ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.”

Kalau kita tadabburi ayat ini secara mendalami secara mendalam, ia berbicara tentang keistimewaan kehidupan orang2 yang syahid, yaitu:

1. Orang2 yang syahid itu kelihatannya sudah meninggal, dan kita tidak boleh mengatakan mereka meninggal, karena mereka adalah orang2 yang hidup dan diberikan rezeki oleh Tuhannya. Ketika mereka diberikan rezeki terus menerus, itu tandanya mereka masih hidup. Rezeki di sini sudah barang tentu rezeki yang sesuai dengan kehidupan ruh ruh mereka. Yang kita berbicara di sini adalah tentang alam barzakh, rezeki yang berupa kehidupan alam syurga, seperti yang sudah kita sebutkan di kajian sebelumnya.

2. Mereka itu bergembira dengan apa saja yang dianugerahkan oleh Allah dari anugerah Allah. Inilah karakteristik mereka, ketika mendapatkan rezeki dari Allah, mereka sambut dengan kegembiraan. Karena tidak ada anugerah yang lebih besar daripada anugerah Allah. Maka dari itu kita di dunia pun harus pandai2 mensyukuri pemberian Allah. Kita tidak ambisius mencari penghargaan/anugerah dari manusia. Tapi ketika itu anugerah dari Allah, justru kita ambisius mencarinya.

3. Mereka memberikan berita gembira kepada orang2 yang belum pernah jumpai, yaitu generasi setelah mereka. Mereka bisa memberikan informasi betapa bahagianya kehidupan orang2 yang syahid. Seperti apa cara komunikasi mereka, yaitu di antara dua orang hamba yang alamnya berbeda, yaitu yang satunya sudah syahid dan yang satunya lagi masih hidup di dunia? Wallohua’lam, hanya Allah yang Maha Tahu.

4. Mereka bergembira tentang keadaan dirinya sendiri setelah syahid.
Mufassir Ar Rozi, mengatakan kenapa sampai dua kali disebutkan “berita gembira” ini? Berita gembira yang pertama adalah berita gembira tentang syahidnya dirinya kepada keluarga dan saudara2nya. Sedangkan berita gembira yang kedua ini adalah untuk dirinya sendiri.
Berita syahid ini adalah berita gembira, dan menjadi keistimewaan orang2 yang syahid. Hal ini tidak didapatkan oleh orang2 yang tidak syahid.

Kapan seseorang itu benar2 syahid? Yaitu ketika orang itu berperang di jalan Allah, benar2 demi tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi, bukan karena harta jabatan, dsbnya.
Setelah itu kita diberikan berita gembira, tentang kedudukan orang2 yang syahid di akhirat. Seperti apakah kehidupan mereka di akhirat itu?

QS An Nisa 95-96: “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Mari kita renungi secara mendalam, sehingga kita diberikan tadabbur yang shahih.

1. Kedudukan orang2 yang syahid itu tidak ada bandingannya. Derajat orang2 beriman yang hanya duduk2 (tidak ikut berjuang di jalan Allah) tidak akan sama dengan derajat orang2 yang berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwanya, walaupun mereka sama2 beriman.

2. Allah mengutamakan (keutamaan orang syahid disebutkan sampai dua kali dalam satu ayat, ini untuk mempertegas) hendaknya umat muslim di dunia ini mengetahui kedudukan orang2 yang syahid di akhirat nanti, yang lebih utama dibandingkan orang2 yang lainnya.

3. Karena mereka itulah yang menjaga eksistensi agama, menjaga ummat, menjaga Negara, sehingga kedudukan mereka tidak bisa disamakan dengan orang2 lainnya. Mereka memperjuangkan eksistensi agama Allah. Mereka menjaga kehormatan bangsa. Siapa yang berjuang? Adalah atas peran orang2 yang syahid. Coba pikirkan, seandaianya para ulama2 kita hanya duduk2, hanya berceramah, tidak ikut turun berjuang? PIkirkan! Apakah kira2 penjajah akan pergi, atau akan datang bertambah?

Ternyata mereka turun berjuang, sehingga bangsa ini masih eksis hingga saat ini. Maka wajar jika kehidupan mereka berbeda dibandingkan orang2 lainnya. Dengan perjuangan di jalan Allah, maka tempat2 ibadah baik itu milik muslim maupun agama lain, akan dijaga. Maka wajar ketika Umar bin Khattab memenangkan peperangan atas suatu daerah, beliau membiarkan kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah.

QS Al Hajj 39-40: “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

Seandainya kalau bukan ajaran yang bernama jihad, di mana orang yang tewas di dalamnya itu disebut syahid, tentunya tempat2 ibadah (berbagai agama) itu akan dirobohkan. Para mujahid tidak melakukannya, karena nasehat dalam perang adalah: jangan kau bunuh orang2 yang sedang beribadah di tempat ibadahnya.

Jihad itu rahmat. Menyatukan ummat, membangun. Berbeda dengan teroris yang merusak.
Kaum muslimin hendaknya memahami jihad secara benar, dan melihat jihad harus positif, karena seluruh kehidupan umat Islam itu rahmat. Sholat itu rahmat, puasa, haji, membantu saudara, memaafkan, membela Negara, semuanya adalah rahmat.
Maka dari itu dimensi rahmat adalah sangat luas.

Kemerdekaan di Indonesia tidak gratis, mereka melalui perjuangan, maka wajar jika di akhirat nanti kedudukan Asy-syahid lebih tinggi daripada ummat Islam lainnya.
Ulama tafsir mengatakan ketika dikatakan al jihad, maka itu adalah al jihad fii sabiilillah (perang di jalan Allah), tapi ada juga jihad yang memiliki arti lainnya, seperti membangun Negara ini.

Menghadirkan Kepahlawanan

Ketika manusia menghadapi masalah2 besar, dunia membutuhkan kepahlawanan. Bagaimana Al Quran menghadirkan kepahlawanan di dunia ini?

1. As sajaa’ah (keberanian)
Jangan bermimpi bangsa ini ada yang menjadi pahlawan, jika tidak ada yang mempunyai keberanian. Bagaimana Al Quran berjanji kepada seluruh umat manusia. Seandainya ada yang murtad, maka akan ada generasi baru. Generasi baru yang bagaimana? Yaitu seperti yang di jelaskan di QS Al Maidah 54.

QS Al Maidah 54: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”

Kepahlawanan itu tidak akan terjadi bila tidak ada keberanian, dan keberanian adalah anugrah Allah. Pertanyaannya, apakah kita bersungguh2 melanjutkan kepahlawanan ini.

2. Tsabat (berteguh pendirian)
Al Anfal (8) 45: “Hai orang2 yang beriman, apabila kamu bertemu dengan musuh2mu, maka tsabatlah dan berdzikir lah yang banyak, agar kamu menang.”
Tidak tergoda dengan sanjungan manusia, tidak tergoda dengan gelombang fitnah atas dirinya. Dia terus berteguh pada pendiriannya.

Seluruh orang beriman meminta hidupnya selalu tsabat di jalan Allah. Jangankan kita, yang perlu selalu berdoa untuk mendapatkan tsabat, Rasulullah, hamba yang paling disayang Allah pun, di antara doa yang selalu dibacakan beliau adalah, “yaa muqollibal quluuub tsabbit qolbii ala diinik” (Ya Allah yang menguasai hati, tetapkan lah hati ini dalam agamaMu).

3. Cita2 yang kuat, semangat yang tinggi, dan dibarengi dengan tujuan yang mulia.
Pahlawan di dunia ini tidak mengenal sesuatu yang murah. Hidupnya untuk sesuatu yang mahal. Ketahuilah bahwa dagangan Allah itu mahal. Dan dagangan Allah itu adalah syurga.

QS At Taubah 111: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”
Dari QS At Taubah 111 di atas, ada sekian banyak pelajaran kehidupan terutama bagi calon2 pahlawan.

Ada suatu uslub (gaya Bahasa) di Al Quran yang mendahulukan dan didahulukan. Ulama tafsir mengatakan, seseorang tidak mengetahui indahnya Al Quran bila tidak tahu mana yang mendahulukan dan mana yang didahulukan.

Pada sebagian besar ayat di Al Quran, dalam mengorbankan, selalu mendahulukan mengorbankan harta lalu jiwa. Tapi di dalam ayat ini, yang didahulukan adalah jiwa terlebih dulu, barulah harta.
Para pahlawan itu membunuh musuhnya dan merekapun gugur dalam perjuangan. Tapi di ayat ini disebutkan “fayuqtaluuna fayaqtuluun” maka mereka terbunuh, dan mereka membunuh. Bagaimana dengan hal ini?

Ulama tafsir mengatakan: para pahlawan itu ketika mereka keluar dari rumahnya untuk berjuang di jalan Allah, cita2nya tidak ingin mendapatkan harta benda, tapi semata2 karena rindu dengan Allah, dan itu tidak akan ada yang memisahkan kecuali dengan kematian. Sehingga niat yang mulia ini disamakan dengan “terbunuh” dan jihad mereka itulah yang “membunuh.”

Pahlawan bukanlah seseorang yang bisa dibeli dengan dunia, mereka hanya menginginkan ridho Allah.
Hadist: “Barangsiapa yang berperang dengan tujuan agar Islam mendapatkan nilai yang paling tinggi, itu lah pahlawan.”

4. Kejujuran dan benar2 memenuhi janjinya pada Allah
Pahlawan menyadari betul bahwa ketika masih di dalam kandungan ibunya, setiap muslim telah berjanji kepada Allah, bahwa Rabb (Tuhan)nya hanyalah Allah.

Ketika Allah menginstruksikan perintah, dan bagi sebagian manusia perintah itu terasa sangat berat, maka para pahlawan membuktikan janjinya kepada Allah, untuk mengikuti perintah Allah itu.

Al Ahzab 23: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya),”

Di ayat di atas, Allah menambah pujian kepada orang2 yang berjuang di jalan Allah, dengan sebutan rijal. Di antara orang2 beriman ada rijal. Kata rijal di sini bukan sebatas laki2, tapi itu mengungkapkan kepahlawanan.

‘Adamuttaqdim, para pahlawan itu tidak mengubah janjinya kepada Allah. Ini menggambarkan ada pelajaran aqidah, bahwa orang yang berjuang, jangan punya persepsi yang salah, bahwa kalau ia berjuang pasti akan mati. Belum tentu. KEmatian bisa datang kepada siapa saja, bukan hanya kepada orang yang berjuang. Orang berjuang belum tentu mati dalam keadaan berjuang. Bahkan ada pula orang yang hanya di rumah saja juga bisa meninggal. Kalau memang kita semua akan meninggal, kenapa kita tidak memilih cara mati yang mulia.

Jalan Kehidupan yang Baik (5)

Tidak ada kebaikan dalam hidup ini, melainkan pasti Allah memberikan petunjukNya menuntun kita kepada jalan yang benar, agar kita bahagia dunia dan akhirat. Di antaranya:

1. Dalam masalah2 yang bersifat materi, kebendaan, kita harus melihat orang di bawah kita, jangan melihat orang di atas kita. Meskipun kita sudah kaya, tapi kalau kita selalu melihat,menonton orang di atas kita, maka kita akan selalu merasa kurang.

Sesuatu yang bersifat materi adalah sarana untuk menuju kebahagiaan. Tidak bisa kita pungkiri, karena Nabi sendiri yang mengatakan: “Ada tiga perkara yang merupakan kebahagiaan dan ada tiga perkara yang merupakan penderitaan. Yang membahagiakan adalah:

1. Istri ketika kamu memandangnya, istri itu menyenangkan kamu, dan apabila kamu tidak ada, istri itu amanah, menjaga dirinya dan menjaga harta bendamu. Itulah istri yang membuat suami mendapatkan kebahagiaan duniawi

2. Kendaraan. Meskipun kendaraan sepanjang masa berkembang, mulai dari onta, kuda, mobil, apa pun namanya, kendaraan yang bagus bisa mengantarkan kita untuk bertemu teman2 kita.

3. Rumah yang luas, yang isinya bisa membantu kebutuhan kita. Tidak bisa kita pungkiri, rumah yang besar membahagiakan kita.

Tiga hal yang merupakan penderitaan:
1. istri yang tidak sholehah
2. rumah yang sempit
3. kendaraan yang mogok.

Tapi meskipun demikian, itu bukan segala2nya. Jangan sampai kita menjadikan rumah, kendaraan, dsbnya itu, menjadi sesuatu yang tinggi. Jangan sampai dunia ini menjadi obsesi yang terbesar.
Iman adalah asset terbesar dalam hidup ini.

Nabi memberikan petunjuknya agar kita tidak melihat dalam masalah bendawi kepada orang yang lebih daripada kita.
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu”

2. Yakin seyakin2nya bahwa kebahagiaan seorang mukmin yang sebenar2nya itu di akhirat.
Kalau kita mengatakan “saya bahagia,” itu sebatas kebahagiaan dunia yang ada batasnya. Jadi kita tidak perlu mengejar2nya, karena kebahagiaan yang hakiki itu baru akan kita dapatkan di akhirat nanti.

Ali Imran 185: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Ada empat pelajaran yang sangat berarti dari ayat di atas:
1. setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Ini bukan semata2 pengumuman dari Allah bahwa kita semua akan mati. Tapi ketika “setiap manusia pasti mati”, pertanyaannya, apakah kita mau mati seperti para Nabi, para Rasul, atau mau mati seperti Firaun, Abu Jahal, Abu Lahab yang menentang Islam?
Karena orang mukmin mati, orang kafir pun bisa mati. Tapi kita ingin mati dengan husnul khotimah.

2. Balasan bagimu akan dibalas dengan utuh di akhirat.
Tidak sedikit orang yang jujur dan bersungguh2 berjuang di jalan Allah, demi bangsa dan Negara, tapi justru orang2 seperti ini ditangkap, dimusuhi, dan tidak dihargai. Media memberitakan yang buruk tentangnya, dan kemudian dipenjarakan.

Nabi juga seperti itu, menyerukan kebaikan, tapi beliau malah mau dibunuh, mau dipenjara, dan kemudian diusir oleh kafir Quraisy (QS Al Anfal 30).
Maka ketika kita berbuat baik, mau membangun bangsa ini, ingat! Orientasi kita adalah akhirat. Karena dunia ini bukan darul jaza’ (negeri pembalasan) tapi ini adalah negeri penuh cobaan.
Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga, itulah orang yang sukses. Kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika masuk syurga.

3. Dalam ayat ini, makna “jauh” tidak disampaikan dalam ungkapan “ba’id/’ub ida” tapi “zuh ziha”. Kenapa? Al Quran itu indah. Indah bahasanya, indah maknanya, apalagi bila diamalkan. Kata zuh ziha berasal dari “zah zaha”, mengandung makna “daya tarik sangat kuat,” menggambarkan neraka dan kemaksiatan mempunyai daya tarik yang amat kuat, terutama bagi mereka yang menyukai maksiat. Ketika kita mampu menjauhi acara2 kemaksiatan yang akan mengantarkan pada neraka, maka kita akan bahagia. Manusia akan dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga

4. Dunia ini guhurur (melenakan), dalam kajian2 kita sebelum ini hal sudah sering kita bahas.
QS At Taubah 20-22:
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (9:20)

Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal, (9:21)
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (9:22)
Kebahagiaan yang sebenar2nya adalah ketika manusia masuk syurga, seolah2 kebahagiaan dunia itu tidak ada apa2nya dibandingkan kebahagiaan masuk syurga. Memang benar, punya harta yang banyak itu bahagia, punya anak yang baik itu membahagiakan. Tapi kebahagiaan yang sempurna adalah saat masuk syurga.

Maalikiyaumiddin (Raja di hari pembalasan). Kenapa akhirat itu disebut sebagai hari pembalasan? Bukankah di dunia ini ada juga pembalasan? Karena:
1. Balasan di dunia itu belum tentu adil
2. Ketika ia didzholimi di dunia, ia tidak perlu sedih, karena balasan yang sebenar2nya adalah di akhirat. Meskipun seluruh dunia tidak menyukainya, tapi ia tidak sedih, karena dalam pengadilan Allah SWT akan sejelas2nya dibalas.

Mendidik umat Islam untuk memandang kebahagiaan di dunia ini, bukanlah kebahagiaan yang hakiki. Meskipun tidak memiliki kebahagiaan duniawi tapi mereka adalah orang2 yang bahagia, karena mereka orang2 beriman, yang meyakini sepenuhnya bahwa kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti.
Hadist: “Dunia itu penjara orang beriman dan syurganya orang kafir.”

Setiap mukmin di dunia ini dipenjara, karena dilarang melakukan syahwat, maka ketika ia meninggal dunia, ia istirahat, bebas dari bentuk2 penjara di dunia ini, dan ia memasuki kebahagiaan yang hakiki.

Jalan Menuju Kebahagiaan (Bagian ke 4)

1. Tidak menginginkan syukur (terima kasih) kecuali dari Allah SWT
Ketika kita berbuat keibaikan, maka orientasi kita semata2 karena Allah. Jangan sekali2 berbuat baik kepada orang, tujuannya agar orang berterima kasih kepada kita. Kita akan capek dalam hidup ini. Kalau kita berharap kebaikan semata2 dari Allah SWT kita akan bahagia.

Bukankah di masyarakat, sering kita temui seseorang membantu adeknya, saudaranya, tetangganya, dengan bantuan yang amat banyak, dan ketika orang yang diberi bantuan itu menjadi orang hebat dan lupa berterima kasih kepadanya, lalu bila ia tidak melihat hal ini dengan kacamata Allah, maka diungkit2 kebaikannya itu, maka rontoklah kebaikan2nya itu.

Oleh sebab itu Allah SWT telah memberi petunjukNya, agar ketika kita memberi makan kepada seseorang, kita tidak mengharapkan balasan dan kata terima kasih darinya.
QS Al Insan 9: “Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian, semata2 karena Allah. Kami tidak menginginkan balasan dari kalian dan juga bukan terima kasih.”

Kebaikan di sini jangan hanya dianggap dengan memberi makan saja, tapi apa bisa berupa apa saja. Makanan di sini adalah gambaran kepedulian kepada orang yang lapar.
Selama kita bisa memberikan kebaikan kepada yang membutuhkan, berikanlah, karena itu jalan menuju kebahagiaan. Kalau kita memberi, jangan berharap balasannya lebih banyak, “walaa tan num tastaktsir.”

2. Memfokuskan pikiran kita, perhatian kita untuk bekerja membangun demi hari ini dan hari yang akan datang, dan memutus rantai masa lalu.
Hidup ini tidak selamanya mulus. Suami memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan, istri juga. Dalam berbangsa dan bernegara ini juga ada hubungan2 masa lalu yang tidak menyenangkan. Kita tidak boleh mengungkit2 masa lalu.

Apa jadinya hidup ini kalau ada manusia yang mengungkit2 masa lalu, lalu meledakkan hidup ini. Ini bukan berarti kita melupakan masa lalu, tapi kita hidup untuk masa yang akan datang.

Doa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Hadist: “Allahumma ini a’udzu bika minal hammi wal hazn, wa a ‘uudzu bika minal ‘ajzi wal kasl, wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhl, wa a ‘uudzu bika min gholabatid daini wa qoh rirrijaal.”

Dalam doa ini kita berdoa pada Allah, berlindung dari rasa sedih, dari ketidaktenangan, ketidakjelasan, dan minta perlindungan kepada Allah dari rasa lemas dan malas, minta perlindungan kepada Allah dari sifat kikir, dan minta perlindungan pada Allah dari lilitan orang atau bangsa lain.

Sebelum kita berpikir dan berharap apakah doa itu dikabulkan atau tidak, dan semoga doa2 kita dikabulkan, kita harus pahami, bahwa doa itu sangat penting, terlepas apakah akan dipercepat dikabulkannya atau tidak. Karena:
1. doa itu ibadah
2. ketika kita berdoa maka harus kita barengi dengan kerja.
Ibrahim as, bapaknya para nabi, ketika berdoa agar dirinya dan anak2nya menjadi muslim, maka dibarengi dengan kerja, yaitu membangun kabah.

Jangan sampai doa kita bertolakbelakang dengan kerja. Kita ingin punya anak soleh, tapi pendidikannya tidak Islami, dan pergaulannya tidak bersama2 orang soleh. Jika ingin anak kita sholeh/ah, maka pendidikannya harus yang Islamy dan teman2nya juga harus yang benar.

Maka kita harus buktikan, jangan menangisi masa lalu. Kita focus bangkit membangun masa depan. Siapa yang tidak punya masa lalu yang buruk? Setiap manusia anak adam pasti pernah berbuat salah. Tapi anak manusia yang berbuat salah, bisa bangkit menjadi berbuat yang terbaik. Jangan diungkit2 masa lalunya. Kita focus demi kebangkita masa depan bangsa ini.

Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim, Rasulullah bersabda: “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan menjadi orang lemah! Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah mengucapkan, ‘Seandainya saya berbuat begini tentu akan terjadi begini dan begitu’ tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya; apa yang telah dikehendaki-Nya pasti akan terjadi, karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ itu membuka jalan bagi setan.”

Jadi kita harus bangkit, jangan terjatuh dalam kubangan “seandainya seandainya”.
Ini bukan berarti kita tidak mempunyai penyesalan, atas apa2 yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Bila kita berbuat salah, kita harus menyesal. Karena salah satu ciri2 tobatnya seseorang adalah menyesali kesalahannya. Kita menyesali masa lalu, tujuannya adalah memperbaiki diri sendiri.
QS Al Qiyamah 2: “Walaa uq simu binnafsil lawwaamah” (dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).

Allah bersumpah dengan jiwa manusia yang mencela dirinya kenapa berbuat keburukan.
Di antara ciri manusia yang akan berubah menuju lebih baik adalah, manusia itu menyesali masa lalunya.

Jiwa yang mencela dirinya karena berbuat salah, itu adalah proses menuju jiwa yang istiqomah. Karena orang yang tadinya berbuat salah itu, tidak ujug2 langsung berubah, tapi harus didahului dengan penyesalan2: “Kenapa saya dulu tidak rajin sholat, kenapa saya dulu tidak rajin belajar membaca Al Quran, dsb”

Jiwa yang lawwaamah (menyesali diri) adalah proses menuju jiwa yang tenang.
Fokus memikirkan masa depan yang lebih baik, ini adalah ciri manusia yang bahagia hidupnya. Keluarga yang bahagia adalah yang focus pada masa depan. Bukan suami yang mengungkit2 masa lalu istrinya. Negara yang besar adalah Negara yang focus pada masa depan, dan mengambil pelajaran dari masa lalu, karena mukmin yang benar tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama sampai dua kali.

Ini harus kita renungi, apabila dalam berkeluarga, berbisnis, berpendidikan, berpolitik, kita sudah merasa pernah melakukan kesalahan, maka jangan diulangi.
Jika kita sudah merasakan pemimpin yang dzholim, jangan jatuh dalam memilih pemimpin yang dzholim lagi. Jika kamu telah menempati tempat2 yang dulunya orang2 yang duduk di situ mendzholimi dirinya, lalu orang2 yang zholim itu telah pergi, maka jangan sampai kamu menggantikan posisinya mengulangi kedzholiman, jangan ulangi kesalahan masa lalu, untuk itu focus pada masa depan.

Rasulullah tidak pernah mengungkit2 masa lalu Kholid bin Walid, padahal dalam perang Uhud, Kholid bin Walid masih dalam posisi sebagai musuh Nabi, tapi ketika ia sudah masuk Islam tidak pernah Nabi ungkit2 masa lalu Kholid. Nabi tidak menjatuhkan mental orang2 yang sudah bertaubat.
Kita semua harus fokus membangun masa depan.

Jalan Kebahagiaan dalam Hidup

Jalan apa saja yang harus kita tempuh agar bahagia, diterangkan dalam Al Quran begitu luas dan begitu banyak. Ini menggambarkan kasih sayang Allah itu begitu luas.

1. Berlapang dada.
Seorang mukmin tidak pernah sepi dari beban kehidupan yang berat. Yang menyatakan berat, adalah Allah sendiri, yang menciptkan kita. Begitu juga bagi para dai.
QS AL Muzzammil 5: “Sesungguhnya kami akan turunkan perkataan yang berat kepada kamu.”
Kita menyadari bahwa hidup ini memang berat, sehingga tidak bisa seorang mukmin ingin bahagia, tapi hidupnya hanya santai2 saja. Hidup orang yg seperti itu kecil, dan matinya juga kecil.

Tidak ada yang merasa kehilangan, mungkin hanya anak istrinya saja yang merasakan kehilangannya, tapi dunia tidak merasa kehilangan. Berbeda dengan orang yang mengajarkan Al Quran, Rasulullah dan para sahabat2nya. Mereka hidupnya lebih capek. Tapi hidupnya besar, karena mereka dibutuhkan umat manusia, dan ketika mereka meninggal, banyak yang merasa kehilangan.

Kehidupan seorang mukmin penuh dengan tugas2/beban2 dari Allah dalam memimpin dunia ini, maka dari itu ada tuntutan untuk berlapang dada.
Apa urgensi berlapang dada?
1. Musa meminta pada Allah agar dilapangkan dadanya.
QS Thoha 25-28: “Musa berkata, ‘Robbisy rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ (Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku)”

Musa as ketika mendapatkan perintah dari Allah agar menyampaikan Islam kepada Firaun, untuk menghadapi durjana terbesar di dunia itu, apa modal yang diminta oleh Musa as? Modalnya adalah iaminta kepada Allah agar dilapangkan dadanya.

Kalau kita lihat ilmu munasabah (ilmu korelasi), dengan mengetahui ilmu munasabah, maka kita akan mengetahui aspek kemukjizatan Al Quran, karena ayat yang diturunkan berbeda waktunya, tapi kuat korelasinya.

Ilmu berlapang dada, maka urusannya akan mudah.
Selain berlapang dada melahirkan kemudahan2 urusan kita, berlapang dada juga melahirkan kelancaran komunikasi. Komunikasi lebih cair. Dalam berumah tangga, dalam berbangsa dan bernegara, mungkin juga ada masalah. Tapi kalau seluruhnya itu dijalani dengan berlapang dada, akan terjadi komunikasi yang baik. Bayangkan kalau setiap orang punya dendam, ingin mencelakakan saudaranya Maka berlapang dada, jalan menuju kehidupan yang baik.

2. Komunikasi/ungkapan yang mudah dipahami.
Begitu Musa menghadapi Firaun berlapang dada, lalu mengkomunikasikannya dengan lancar, maka diharapkan Firaun dapat memahami inti2 yang akan disampaikan.

3. Berlapang dada adalah anugrah Allah yang sangat besar
Allah memberikan nikmat yang sangat besar, sampai2 tentang lapang dada ini menjadi satu nama surat di dalam Al Quran, yaitu Al Insyiroh (berlapang dada): “Bukankah telah kami sudah lapangkan dadamu (Muhammad)?”

Redaksi ini oleh orang yang sudah dipahamkan oleh Allah SWT tentang tafsir ayat ini, memberikan pengetahuan kepada kita, bahwa Rasulullah, walaupun beliau seorang nabi, tapi tetap beliau tidak bisa lepas dari unsur kemanusiaannya. Dalam berdakwah, ada orang2 yang dekat (baik dari sisi lokasi maupun dekat kekerabatannya), tapi begitu Muhammad diangkat oleh Allah sebagai Nabi, kaumnya menyakiti, memusuhi Nabi. Begitu juga yang dihadapi pewaris risalah para Nabi, yaitu para da’i saat ini, yang menghadapi tindakan keras.

2. Berbuat baik kepada seluruh manusia, bukan hanya kepada golongan saja, keluarganya saja, tapi seluruh manusia.
Kita bahagia, tidak perlu mengimpor kebahagiaan dari luar, karena kebahagiaan bisa kita produksi sendiri. Caranya, dengan menyucibersihkan hati kita dari sifat2 iri, dengki.

Dalil bahwa berbuat baik akan membuat hidup bahagia, ada di QS An Nisa 114:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”.

Tiga hal yang akan membuat bahagia:
Menyuruh saudaranya untuk bersedekah, agar meringankan beban saudara, agar tidak ada kefakiran, menyuruh berbuat baik, dan mendamaikan manusia
Barang siapa yang melakukan tiga hal tersebut semata2 mencari Mardhotillah (ridho Allah), pasti akan Allah berikan pahala yang besar.

Anugrah kepada orang2 yang memproduksi kebaikan2 itu sangat besar.

Apa saja urgensi berbuat ihsan yang diterangkan dalam AQ?
1. Untuk mengetahui seberapa besar manfaat yang ditimbulkan pada manusia, Al Quran memerintahkan agar berbuat baik kepada seluruh manusia
QS Al Qashash 77: “berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepada kamu.”

Ketika Allah menyebutkan “berbuat baik,” ini tidak ditujukkan berbuat baik kepada siapa. Hal ini menunjukkan perintah berbuat baik kepada siap saja. Tidakkah kita merasa hebat, ketika bangsa ini memproduksi kebaikan sebanyak2nya, berbuat kebaikan untuk seluruh umat manusia, inilah Islam yang diajarkan Allah.

2. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
Kenapa disebut secara khusus kepada kedua orang tua. Ini menggambarkan urgensi berbuat baik kepada orang tua, dan juga karena kebanyakan manusia itu lupa. Karena manusia biasanya memikirkan hal yang jauh. Ketika ditanya, “untuk apa Anda mencari uang?” Biasanya menjawab untuk anak dan istri. Jarang yang menjawab untuk orang tua.

Itu lah di Al Quran dipertegas, berbuat baiklah pada orang tua. Kita berbuat baik kepada anak dan istri itu juga wajib, tapi itu sudah fitrahnya, menafkahi anak istri. Tapi manusia sering lupa untuk berbuat baik pada orang tua, maka dari itu Allah ingatkan di dalam Al Quran.

Berapa banyak dari kita yang menganggarkan mengirimkan uang bulanan untuk orang tua kita, menyediakan waktu bercengkerama dengan orang tua kita. Di hari tua mereka, mereka merasa kesepian. Sudah menjadi kewajiban kita untukberbuat baik kepada mereka.